1 Mendapatkan syafaat. salah satu kebaikan yang kita bisa peroleh dari berpuasa adalah syafaatnya. Hadis yang menjelaskan tentang ini berbunyi sebagai berikut: Artinya: "Puasa dan Al-Qur'an itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa akan berkata, 'Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu
Dari'Amr Ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya Radhiyallahu 'anhum (semoga Allah meridhai mereka) berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:" Makanlah dan minumlah dan berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa berlebihan (israf) dan tanpa kesombongan ". (HR. Abu Dawud dan Ahmad dan Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan
Dariayat di atas dapat kita lihat, "Dan Dia memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya". Dari kutipan tersebut dapat kita cerna, bahwa Allah memberikan apa yang menjadi keperluan kita, kebutuhan dasar kita. Sudah seharusnya kita mensyukuri nikmat Allah dengan berjuang di jalan-Nya.
Hatikita menjadi goyah karena kenyataan tersebut tidak sesuai dengan apa yang sudah dinantikan selama ini, sehingga ada rasa tidak percaya dengan hal itu meskipun hal itu termasuk benar adanya. Allah adalah Tuhan yang selalu memberikan yang terbaik pada umat-Nya, sehingga tidak baik untuk menolak kenyataan dengan kemarahan.
24views, 0 likes, 0 loves, 0 comments, 0 shares, Facebook Watch Videos from Pemuda Hijrah - Majelis Nariyyah: Allah Memberikan Apa Yang Kita Butuhkan, Bukan Yang Apa Kita Inginkan.
3NSqxhT. "Wahai jin dan manusia, jika kalian mampu menembus penjuru langit dan bumi, tembuslah! Kalian tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan ilmu." Ar-Rahman33 Ketika kita meminta Kekuatan… TUHAN memberi kita ujian untuk kita hadapi agar membuat kita semakin kuat. Ketika kita meminta Kesuksesan… TUHAN memberi kita kegagalan agar kita mampu belajar u/ sukses. Ketika kita meminta beberapa kelebihan… TUHAN memberi kita kekurangan agar kita memahami arti kelebihan Ketika kita meminta kebijaksanaan… TUHAN memberikan kita masalah2 yg harus kita pecahkan. Ketika kita meminta kemakmuran… TUHAN memberikan otak dan kekuatan untuk bekerja. Ketika kita meminta Keberanian… TUHAN memberi kita rintangan2 untuk kita hadapi agar kita lebih berani. Ketika kita meminta Cinta… TUHAN memberikan orang2 yg dalam kesulitan untuk kita bantu. Ketika kita meminta pertolongan… TUHAN memberi kita kesempatan “Tuhan tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan melainkan Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan” jadi, selalu positif thinking tentang apa yang terjadi dalam hidup kita. Tuhan Maha Tau apa yang terbaik buat kita. Tetap semangat menjalani proses hidup. ^_^ sumber
Terdapat sebuah hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terlepas dari status atau tingkatannya yang diriwayatkan dari Ibnu Umar radiallahu anhu berbunyi sebagai berikut اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأنَّك تَعِيشُ أبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا Artinya “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi.” Penggalan pertama dari hadits di atas, yakni اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأنَّك تَعِيشُ أبَدًا dipahami secara berbeda oleh berbagai orang. Ada sebagian orang yang memahaminya sebagai perintah supaya dalam bekerja untuk mencari dunia kita hendaknya melakukannya sebaik dan sekeras mungkin supaya mendapatkan hasil sebanyak-banyaknya sehingga mencukupi seluruh kebutuhan karena akan hidup selamanya. Pemaknaan seperti itu sesungguhnya tidak tepat meskipun dengan dalih sebagai perimbangan terhadap penggalan kedua dari hadits tersebut, yakni وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا. Di antara kaum Muslimin tidak ada perbedaan pendapat tentang makna penggalan kedua ini. Mereka sepakat bahwa bekerja untuk kepentingan akhirat harus dilakukan sesegera mungkin dan sebaik-baiknya karena kita dianjurkan berpikir seolah-olah besok kita akan mati. Pemaknaan yang benar terhadap penggalan pertama dari hadits di atas adalah sebagaimana dijelaskan Muhammad Mutawalli asy-Sy’rawi dalam Tafsir asy-Sya’rawi Akhbarul Yaum, 1991, jilid 3 hal. 1752 terkait dengan tafsir surat Ali Imran ayat 133 sebagai berikut الناس تفهمها فهماً يؤدي مطلوباتهم النفسية بمعنى اعمل لدنياك كأنك تعيش أبداً يعني اجمع الكثير من الدنيا كي يَكفيك حتى يوم القيامة، وليس هذا فهماً صحيحاً لكن الصحيح هو أن ما فاتك من أمر الدنيا اليوم فاعتبر أنك ستعيش طويلاً وتأخذه غداً، أمَّا أمر الآخرة فعليك أن تعجل به Artinya “Manusia memahami penggalan hadits yang berbunyi “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya” dengan pemahaman yang menuntut terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang bersifat psikologis, yakni pemahaman supaya mendapatkan sebanyak-banyaknya dari dunia ini untuk mencukupi kebutuhan hidup hingga hari kiamat. Pemahaman seperti itu tidak benar, akan tetapi yang benar adalah bahwa jika engkau tidak bisa meraih sesuatu dari dunia ini pada hari ini, maka berpikirlah sesungguhnya engkau akan hidup lama dan akan dapat meraihnya esok hari. Sedangkan terhadap apa yang terkait dengan akhirat, engkau hendaknya bersegera meraihnya.” Jadi berdasarkan penjelasan dari Imam asy-Sy’rawi di atas, pemaknaan yang benar adalah bahwa kita bekerja untuk mendapatkan hal-hal duniawi cukup seperlunya saja. Hal ini karena kita dianjurkan untuk berpikir bahwa kita akan hidup selamanya sehingga hari esok masih ada dan masih banyak waktu untuk melakukannya. Dalam kaitan ini ada pepatah Jawa yang sejalan dengan pemaknaan seperti itu, yakni “Ana dina ana upa ada hari ada nasi.” Artinya selama masih ada kehidupan, rejeki selalu tersedia setiap hari sehingga tidak perlu bekerja mencari dunia secara “ngaya” atau bekerja terlalu keras hingga lupa ibadah dan lupa waktu untuk istirahat. Allah subhanu wata’ala telah mengingatkan di dalam Al-Qur’an, surat an-Naba’ bahwa kehidupan ini telah diatur sedemikian rupa; ada siang dan ada malam. Masing-masing memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Kedua ayat itu berbunyi sebagai berikut وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا ١٠ وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا ١١ ـ Artinya ”Dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian 10, dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.” 11 Ibnu Katsir menafsirkan ayat 10 di atas sebagai berikut أي يغشى الناس بظلامه وسواده، كما قال {والليل إذا يغشاها} Artinya “ Allah menjadikan malam untuk menutupi semua manusia dengan kegelapannya. seperti yang disebutkan-Nya dalam ayat lain وَاللَّيْلِ إِذا يَغْشاها Artinya “Dan malam apabila menutupinya.” Asy-Syams 4. Selanjutnya beliau menambahkan keterangan dengan mengutip pendapat Qatadah sebagai berikut وقال قتادة { وجعلنا الليل لباساً} أي سكناً. Artinya “Qatadah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “pakaian” adalah ketenangan.” lihat Tafsir Al-Qur’an al-Adzim, Dar Ibn Hazm Beriut, Cetakan I, 2000, hal. 1952-3. Jadi intinya adalah Allah menjadikan malam sebagai saat yang gelap agar manusia istirahat dengan tenang. Mengenai ayat 11 di atas, Ibnu Katsir menafsirkannya pada halaman yang sama sebagai berikut أي جعلناه مشرقاً نيراً مضيئاً ليتمكن الناس من التصرف فيه والذهاب والمجيء للمعايش والتكسب والتجارات وغير ذلك Artinya “Allah menjadikan siang terang benderang supaya manusia dapat melakukan aktivitasnya untuk mencari upaya penghidupan dengan bekerja, berniaga, dan melakukan urusan lainnya.” Memperhatikan kedua ayat di atas, kita diharapkan dapat bekerja untuk dunia secara logis. Oleh karena kita dianjurkan untuk berpikir bahwa seolah-olah kita akan hidup selamanya, maka sesungguhnya kita harus pula berpikir bahwa terdapat banyak sekali kesempatan dalam hidup ini untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan. Jika hari ini kita belum mendapatkan apa yang kita butuhkan, esok hari masih ada kesempatan untuk mendapatkannya sehingga kita tidak perlu bekerja memforsir diri dengan melupakan perlunya istirahat. Cara seperti ini justru bisa merugikan diri sendiri karena riskan jatuh sakit akibat kelelahan. Allah menjadikan malam sebagai saat yang tenang agar kita semua bisa istirahat dengan tenang sekaligus memulihkan kembali stamina kita agar esok hari bisa melanjutkan bekerja sebagaimana lazimnya manusia bekerja. Saat malam juga sangat baik untuk melakukan qiyamul lail dengan terlebih dahulu tidur secukupnya. Mengisi malam dengan berbagai ibadah di malam hari hendaknya tidak sengaja kita lewatkan begitu saja sebab justru dalam konteks inilah penggalan kedua dari hadits di atas menemukan relevansinya, yakni pada saat ada kesempatan beramal untuk akhirat, maka kesempatan itu tidak boleh disia-siakan dan supaya dikerjakan dengan sebaik-baiknya karena bisa jadi esok hari kita telah mati. Kesimpulannya, penggalan hadits “Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya” mengandung makna bahwa kita tidak boleh bekerja mencari dunia secara “ngaya” atau bekerja terlalu keras hingga lupa ibadah dan lupa waktu untuk istirahat karena sesungguhnya selama Allah masih memberi kita kesempatan untuk hidup, selama itu pula Allah menjamin ketersediaan rezeki bagi kita. “Ana dina ana upa.” Muhammmad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama UNU Surakarta.
hadits tentang allah memberikan apa yang kita butuhkan