Jawaban(1 dari 9): Tergantung pribadi orang nya. Saya gemar membaca buku.menurut saya salah satu hal yang tidak akan menghianati adalah knowledge.mungkin karna ibu saya pendidik juga ya.jadi menurun.hehehe Bahkan tanpa saya sadari,saya kadang terlalu puitis šŸ˜‚ dilematis dan a Membacaerat kaitannya dengan kemampuan menulis seseorang. Dengan memperbanyak bacaan akan memperkaya perbendaharaan kata yang dimiliki oleh setiap individu. Semakin kaya kosakata yang dimiliki seseorang, akan semakin berwarna pula tulisan yang dibuatnya. Membaca menurut KBBI memiliki arti melihat dan memahami arti dari apa yang tertulis. Dalambuku terdapat materi membaca dan menulis permulaan, yang dimana peserta didik akan diajak belajar bersama untuk mengenal huruf serta belajar membaca dan menulis permulaan. Buku ini dapat digunakan oleh peserta didik dengan pendampingan oleh guru, orang tua, atau wali. Berbagai kegiatan kontekstual dan menyenangkan disajikan untuk Belajarmembaca dan menulis akan membuat kita jadi pandai dan pintar . Kecamatan Jagakarsa; Di rumah guru Di rumah Anda; Dengan kamera web Umum Secara keseluruhan, ini akan menjadi hari yang emosional bagi Anda. Anda mungkin perlu mengungkapkan pikiran dan perasaan terdalam Anda. Ini adalah prospek yang menakutkan karena Anda belum pernah melakukan ini sebelumnya, tetapi jika Anda mengambil langkah ini, itu akan membawa Anda lebih dekat ke pemenuhan emosional. DIwENGb. Deffy Ruspiyandy Gaya Hidup Friday, 18 Feb 2022, 0725 WIB Sesungguhnya bagi seorang penulis, kegiatan membaca adalah hal yang wajib dilakukan setiap saat. Ibaratnya membaca adalah menu wajib yang tak boleh ditinggalkan oleh seorang penulis. Membaca adalah aktivitas yang secara langsung merangsang intelektual kita di dalam menelaah pemikiran yang disampaikan oleh orang lain dalam berbagai bentuk yang mengajak kita selaku pembacanya untuk bisa berpikir kritis. Menulis dapat dilakukan ketika penulis terbiasa membaca. FOTO Deffy Ruspiyandy Menurut Hodgson 1960 43-44 membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas dan makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, pesan yang tersurat dan yang tersirat akan tertangkap atau dipahami, dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik. Tentu saja, dengan membaca maka seorang penulis akan terbuka cakrawala pandangnya karena menerima berbagai pemikiran dari siapapun yang telah menuangkan idenya. Dengan begitu maka barang tentu seorang penulis akan terpacu pula untuk menuangkan idenya. Idenya bisa didapat dari apa yang telah dibacanya tadi. Jadi seorang penulis yang jarang membaca maka setiap tulisan yang dihasilkannya akan terasa garing dan pesan-pesan yang disampaikannya pun seringkali tak tepat sasaran dan tak sesuai harapan. Sumber-sumber bacaan pada saat sekarang bagi para penulis bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Jika dulu memang untuk mendapatkan buku berkualitas, selain membeli ya setidaknya harus mendatangi perpustakaan namun kali ini selain hal itu juga dapat dilakukan dengan berkunjung ke perpustakaan digital yang dapat dilakukan dengan menggunakan fasilitas internet. Tinggal menuliskan sumber bacaan yang kita butuhkan maka akan dengan mudah didapatkan dan jika khawatir kita lupa dan butuh lagi untuk membacanya maka kita mengesavenya di flashdisk atau di penyimpanan data yang ada pada laptop kita. Sangat wajar jika saat ini tak ada alasan bagi seorang penulis kesulitan untuk mendapatkan sumber bacaan yang berkualitas. Hanya ada kemauan saja karena semua itu akan dengan mudah didapatkan. Adanya kemudahan ini berarti sama artinya dengan membuat penulis semakin terpacu untuk selalu membaca. Secara ideal, setiap hari tentunya seorang penulis yang harus membaca dan juga menulis. Kemampuan menulis akan semakin baik ketika kemampuan membaca pun tercipta secara baik pula. Memang tak salah jika budaya literasi di negeri belum bisa berkembang secara pesat dibanding dengan negara lain karena masyarakatnya belum memiliki buadaya membaca yang baik. Persoalannya adalah mana mungkin akan lahir para penulis handal ketika kondisinya membacanya masih minim. Mereka tokoh-tokoh besar yang terkenal menjadi penulis adalah orang-orang yang memiliki jam terbang membaca yang sangat mumpuni. Karenanya, seorang penulis mestilah ia gemar membaca. Karenanya bagi seorang penulis sesungguhnya haruslah mampu menjadikan kegiatan membacanya sebagai bagian dalam peningkatan kualitas kepenulisannya. Banyak membaca karya-karya orang lain akan menambah beragam wawasan dan ilmu pengetahuan. Dengan banyak membaca itulah maka seorang penulis takkan kekurangan ide untuk menuliskan apa saja yang dirasa bermanfaat bagi pembaca. Terbiasa membaca maka akan pula dengan mudah terdorong menciptakan kondisi kegiatan penulisan yang dapat dilakukan secara kontinyu. Melihat kenyataan ini, artinya bahwa membaca dan menulis ternyata sama pentingnya. Keduanya saling berkaitan dan tak bisa dianggap yang satu penting namun yang satu tidak penting. Di sini ada sebuah realita yang tak bisa dipungkiri jika membaca adalah latihan awal untuk bisa menulis karena kreatifitas yang ada di otak akan berjalan baik jika ada stimulus dan stimulus yang baik bagi seorang penulis adalah dengan membaca. Membaca apa saja maka akan membuat penulis selalu terangsang untuk mencari ide penting di dalam dunia kepenulisannya. Menurut seorang pakar, membaca dapat menstimulus otak kita yang membuat siapapun akan selalu berpikir analitis. Kebiasaan berpikir secara analitis juga menstimulus otak lebih terbuka menerima pendapat dan pengetahuan dari orang lain. Salah satu indikasinya dapat dilihat bahwa siapapun lebih sering belajar dari pengalaman orang lain, daripada menyalahkan orang lain atau mengada-adakan kesalahan orang lain. Tentu saja dengan begitu, kegiatan membaca tak bisa dipandang sebuah hal yang remeh. Benar pada hakikatnya hanyalah mengeja kata demi kata. Namun di balik semua itu sesungguhnya ada media yang memotivasi orang yang membaca untuk mampu menangkap dan mengikat pemikiran orang yang menulisnya. Dengan begitu maka bagi seorang penulis itu adalah hal yang penting karena akan mendorong dirinya slalu berpikir kritis terhadap sesuatu dan membuatnya akan bergairah untuk menulis karena takkan pernah kekurangan ide. Banyak ide yang didapat sangat memungkinkan untuk bisa terus menerus menulis. Dengan terbiasa membaca maka banyak hal yang diketahui. Hal ini sangat memungkinkan bagi seorang penulis akan terbiasa untuk tetap konsisten melakukan kegiatan literasi di dalam hidupnya. Semakin terkondisikan kegiatan membaca yang konsisten maka dengan sendirinya akan membuat dirinya terus berkreasi menghasilkan tulisan-tulisan bermutu. Kareanya truslah membaca karena dengan membaca, seorang penulis akan mampu menggoreskan penanya secara tajam dan tulisan yang disampaikannya akan bermanfaat bagi banyak orang.*** membaca menulis ide penulis berpikir Disclaimer Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku UU Pers, UU ITE, dan KUHP. Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel. Berita Terkait Terpopuler di Gaya Hidup Terpopuler Tulisan Terpilih Oleh Jessica Jelita Murni Gaes, tahu nggak sih kalau ternyata kebiasaan membaca berhubungan erat dengan kemampuan menulis? Secara awam, orang yang memiliki kreativitas tinggi biasanya dikenal sebagai orang yang jenius atau memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Kamu udah nggak asing lagi dengan pernyataan ā€œorang jenius adalah kutu bukuā€, 'kan? Jika benar, penulis dan sastrawan dapat dikategorikan sebagai orang yang kreatif atau jenius tersebut karena sebagian besar dari mereka memiliki minat baca yang tinggi. Dari situ, terbentuklah satu hipotesa yang berbunyi untuk bisa menjadi penulis yang baik, maka harus gemar membaca berbagai tulisan dan bersikap positif terhadap proses menulis. Reader makes best writer. Boleh diumpamakan bahwa orang yang menulis tanpa membaca serupa dengan orang buta yang sedang berjalan. Maksudnya, kalau kamu ingin menulis sesuatu, kamu harus berproses terlebih dahulu dengan tekun, salah satunya adalah dengan melakukan kegiatan membaca. Hal ini karena dalam menulis dibutuhkan kekayaan ide, inspirasi, gagasan, serta pengetahuan yang luas yang sebagian besarnya dapat kamu peroleh dengan banyak membaca. Tentu saja, itu dapat membantumu menghindari kebuntuan dalam menulis atau dikenal dengan istilah writer’s block karena kehabisan ide. Apapun genre tulisan yang kamu hasilkan—asalkan nggak berisi hal yang nirfaedah—pasti dapat memberikan pengetahuan baru dan pembelajaran hidup baik untuk dirimu sendiri maupun orang lain yang membacanya. Misalnya nih, kamu suka banget membaca karya sastra bergenre fiksi. Menurut Jakob Sumardjo dalam bukunya yang berjudul Apresiasi Kesusastraan, karya sastra merupakan isi jiwa sastrawan yang menciptakannya. Maka dari itu, sebuah karya sastra nggak hanya dapat memperkaya pengalaman para pembacanya tanpa perlu mengalaminya sendiri, namun juga meningkatkan nilai-nilai empati. Ada lagi, nih, perumpamaan lain orang yang yang membaca tanpa menulis bagai orang pincang yang sedang berjalan. Dalam konteks ini, maksudnya adalah segala ilmu dan pegetahuan yang telah kamu baca nggak akan ada gunanya kalau kamu tidak membagikannya kepada orang lain, contohnya melalui tulisan. Jika membaca adalah proses menimba wawasan melalui jendela yang terbuka, maka menulis adalah cara menyajikan wawasan yang telah ditimba itu kepada masyarakat luas, sehingga ilmu mereka pun juga bertambah. Bukankah sebaik-baiknya seseorang adalah yang bermanfaat bagi orang lain? Saya pernah membaca hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Stephen D. Krashen. Dalam bukunya yang berjudul Writing Research, Theory, and Application pun beliau mengangkat hubungan antara kegiatan membaca dan menulis. Dari penelitian tersebut, Krashen menemukan bahwa para respondennya yang merupakan para penulis adalah mereka yang gemar banget membaca sejak usia dini. Nggak hanya gemar membaca, tetapi mereka pun juga mengakui bahwa sejak masih sekolah, mereka telah mengikuti berbagai kegiatan menulis di luar sekolah, menulis surat-surat, bahkan mengikuti kursus menulis saat masih di bangku sekolah. Awalnya, saya juga masih ngerasa skeptis, kok. Berbekal keraguan dan kekepoan, saya pun melakukan penelitian kecil-kecilan terhadap beberapa orang teman SMA saya mengenai korelasi minat baca karya sastra terhadap kemampuan menulis. Hasilnya, mereka mengakui bahwa dengan banyak membaca, perbendaharaan kata yang mereka miliki semakin banyak! Orang yang kaya akan perbendaharaan kata akan tahu bahwa ada banyak kata lain yang hampir mirip dan dapat mengantikan suatu kata tanpa mengubah makna. Misalnya, kata ā€œmelihatā€ bisa diganti dengan melirik, mengerling, menatap, mengintip, melotot, memantau, menonton. Hal tersebut penting banget untuk dimiliki agar tulisanmu nggak terasa membosankan karena menggunakan kata yang itu-itu saja—juga agar kamu nggak kebingungan ketika menemukan kata-kata yang asing terdengar di telinga. Jika kamu sering membaca, kamu pun juga menjadi peka terhadap pengaplikasian susunan karangan logis dan urut serta penggunaan bahasa baku. Alhasil, ketika kamu menulis, kesalahan-kesalahan yang akan kamu buat dalam susunan kalimat, pengaplikasian diksi atau pemilihan kata, dan penggunaan bahasa baku pun menjadi lebih minim, yang bikin pesan yang kamu sampaikan dalam tulisanmu mudah dicerna oleh pembaca. Untuk apa kamu menulis kalau tulisanmu bahkan nggak bisa dipahami oleh para pembacanya? Membangun kebiasaan membaca dan mengasah kemampuan menulis itu ibarat belajar mengendarai sepeda. Meskipun kamu harus terjatuh berulang-ulang kali, apabila kamu masih memiliki motivasi yang kuat untuk mahir bersepeda, maka setiap kejatuhanmu nggak akan menjadi hambatan bagimu untuk kembali berdiri dan mengayuh sepeda itu sampai berhasil. Jadi, sudahkah kamu membaca dan menulis hari ini? sumber gambar

dengan pandai membaca dan menulis akan menjadi orang yang